Friday, March 12, 2004

Silungkang, 26 Februari 2004
Kepada Kemenakanda Rian
di Bandung

Assalammualaikum wr.wb

Dengan ringkas saja Mak Itin sampaikan pada Rian, Mak Itin sangat gembira sekali mendengar kabar dari Papa Rian kalau Rian ingin memakai gelar pusako kita mengingat gelar itu tidak saja merupakan kebanggaan tapi juga merupakan harga diri dari kaum kita.

Karena sebentar lagi Rian akan dewasa secara adat, maka Rian berhak memakai gelar apakah itu gelar pusako atau gelar pecahan. Adat kita di Silungkang menyatakan ketek banamo godang bagola. Ketek dan godang batasnya adalah berumahtangga. Gelar yang akan Rian pakai ini adalah gelar pusako kita yaitu Khotik Bosa artinya Khatib Besar.

Juga Mak Itin sampaikan pada Rian tulislah gelar ini selalu di belakang nama Rian agar gelar ini jadi selalu diingat orang dan juga jaga baik-baik gelar ini. Mak Itin mengucap selamat pada Rian dan sekaligus berpesan jangan sampai Mama dan Papa bak mamaga karambia condong. Ingat adik Rian!! Karena di Minang, kita menganut paham kekeluargaan. Mak Itin juga mohon maaf tidak dapat menghadiri resepsi pernikahan dan perhelatan, juga Mak Itin mohon maaf pada Papa dan Mama.

Hanya sekianlah dahulu surat dari Mak Itin.

Wassalam

Syahrudin Dt Rangkayo Bosa

------------------------
Ada dua buah surat sebenarnya yang dilayangkan dari tanah leluhur, Silungkang, yang dikirimkan oleh penghulu kampung. Keduanya merupakan jawaban dari permohonan pemakaian gelar di belakang nama saya yang berkait dengan adat istiadat kami orang Minang atau Silungkang lebih tepatnya. Dalam surat satu lagi yang dialamatkan pada Nik Mamak Dalimo Jao, suku saya di Silungkang, dijelaskan lebih rinci tetnnag asal muasal gelar Khotik Bosa ini. Siapa pemakai terakhir gelar ini. Nanti saya akan mencari salinan surat ini. Tapi yang jelas, gelar ini gelar pusaka..karena merupakan gelar asli dari nenek moyang di Silungkang. Artinya, gelar ini seperti menitis ke keturunan-keturunan dari garis Ibu (matriakat). dan kahirnya sampai di sya, dan akan diletakkan di belakang namaku. Budi Afriyan Khotik Bosa. Aneh yaa??? Saya lebih suka apabila gelar ini diletakkan di belakng nama panggilan saya, Buyung Khotik Bosa :) Anyway, beban gelar ini berat banget di pundak saya karena arti gelar ini menunjukkan bahwa orang yang memegang gelar ini adlah orang yang fasih dalam hal agam. Sementara saya???? hahaha....Tapi,itu adalah do'a...dan saya senang sekali dido'akan karena banyaknya dosa bergelimpangan...

1 Comments:

Anonymous auliahazza said...

Mohon diluruskan gelar Panghulu Suku Supanjang (Dalimo Jao) yang sekarang seharusnya hanya Datuk Bosa. Jadi bukan Datuk Rangkayo Bosa. Hal ini berdasarkan buku Silungkang Membangun, edisi 003/BSM/MAR/1999.

Dan juga hasil rekaman kaset (taktumbin) Silungkang didalam Upacara Adat, Pepatah Adat juga mengatakan Panghulu Suku Supanjang itu dalam Gayung Basambut Penerimaan Marapulai di rumah Anak Daro hanya dihimbau cukup DATUK BOSA.

Lebih lanjut hal ini boleh bertanya ke kanan dan kekiri baik Pamangku Adat di Silungkang atau mantan-mantan ketua KAN di 5 suku yang ada di Silungkang atau kepada mantan-mantan Ketua KAN yang terdahulu. Sebab ada seorang, orang tua yang tahu adat istiadat atau mengenai gelar-gelar di Silungkang memberikan arahan kepada saya. Saya sebagai generasi muda Dalimo Jao Suku Supanjang ingin mendengarkan gelar Panghulu Pucuak suku Supanjang adalah DATUK BOSA BUKAN DATUK RANGKAYO BOSA. Sebab yang namanya DATUK RANGKAYO BOSA adalah gelar adik dari DATUK BOSA tersebut di zamannya beliau ingin menikah dan memakai gelar.

Sekali lagi yang namanya gelar Panghulu suku Supanjang adalah DATUK BOSA, TITIK.

Atau perlu juga diseminarkan atau dengar pendapat dari 5 Panghulu Pucuak yang ada sekarang atau orang tua yang mengerti adat dan mantan-mantan panghulu yang di Silungkang

2:15 PM  

Post a Comment

<< Home