Thursday, November 13, 2003

Tulisan ini merupakan kenangan seorang kawan bagi kawannya yang baru meninggal. Saya sendiri sama sekali tidak mengaenal kedua orang ini secara personal, tetapi cara menulis kenangan seperti ini membaut saya bisa membayangkan sebdekat apa hubungan antara kedua orang ini. Dan seperti apa kesan sang penulis terhadap kawannya yang meninggal.

Berharap suatu hari nanti saya bisa menulis sebagus ini.

-------------------------------------------------------------------------
Dengan hormat,

Sepanjang Sabtu kemarin saya risau ketika mengerjakan tata letak Pantau
edisi Desember. Sejak pagi hari, ada telepon masuk dari Mbak Rani, salah
satu orang penting di radio Mara; Mbak Titin, salah satu dosen
Universitas Padjajaran, Mohammad Sunjaya dari Actors Unlimited, dan
beberapa rekan lain di Bandung.

Pesannya, macam-macam, mulai dari laporan perkembangan keadaan kritis
Mbak Ea --panggilan akrab Layla Mirza-- hingga sekitar pukul 12:00 Titin
bilang sekarang juga saya harus terbang ke Bandung. Saya harus lihat
Mbak Ea. Mungkin waktunya tidak lama.

Sedih sekali. Minta tolong seorang rekan mencarikan tiket pesawat
terbang ke Bandung tapi tak dapat.

Sekitar pukul 17:00 telepon masuk lagi --kali ini mungkin lebih dari 20
kali. Mbak Ea sudah tiada. Ada Mohamad Iqbal, Budi Setiyono, Yusuf,
Bakti Tejamulya dan istrinya, di kantor dan saya merasa tertekan sekali.

Saya pergi ke sebuah ruang yang sepi, tak ada orang, di kantor LeBoYe
Kemang yang lengang itu, dan berpikir, soal hubungan akrab kami. Saya
tiba-tiba menangis sedih mengenang almarhumah.

She is such a sweet person! Why should she die? She is needed by so many
people.

Rasanya ada ketidakadilan di sini. Ea masih muda. Anaknya dua masih
kecil-kecil. Mirza, suaminya, juga sangat mencintai Ea. Mirza orang
praktis yang selalu membantu Ea.

Cerita penyakitnya, mula-mula rahim Ea diangkat pada 1999 karena terkena
kanker. Ea sempat mengirim email pada saya, ketika itu tinggal di
Cambridge, Boston, dan mengeluh karena ia merasa sudah bukan perempuan
lagi --karena tak bisa hamil lagi. Aduh, duh, saya bilang tak benar.
Kami curhat-curhatan lewat email karena perasaan kehilangan begitu dalam
pada Ea.

Dia cerita bagaimana biaya operasi begitu mahal tapi ada teman-teman
membantu.

Ketika pulang ke Indonesia, saya baru tahu bahwa Ea mengalami begitu
banyak kesulitan karena perawatan pasca-operasi, antara lain,
chemotherapy. Rambuknya rontok, kesehatannya menurun, harus menelan
banyak obat, tapi Ea masih orang yang menggembirakan. Senyumnya lebar.
Selalu cium pipi. Selalu merangkul.

Dia mengundang saya beberapa kali memberi ceramah di Universitas
Padjajaran. Kami sering main bersama, makan di Bandung, main bowling.
Rekan-rekan kerjanya ikut bersinar dan ceria karena keberadaan Ea. Baik
di radio Mara maupun di Universitas Padjajaran.

Dia cerita merasa dekat dengan Gusti Allah karena pengalaman kanker. Dia
cerita bagaimana Mirza begitu memperhatikannya. Dia juga menjadi lebih
saleh dan memakai jilbab --dengan model yang terkadang aneh.

Sebaliknya, sejak 1999 saya juga banyak terlibat membantu Ea dengan
radio Mara. Kami mencari dana bersama-sama untuk melakukan perbaikan
gedung, membeli alat, dan melatih para wartawannya. Jadinya, sering
bolak-balik Bandung-Jakarta.

Belakangan kami sering bicara soal perbaikan kurikulum pendidikan
wartawan di Padjadjaran. Dia minta saya ikut mengajar bahkan sempat
terpikir ide bikin kuliah rutin.

Ea juga banyak tahu berbagai macam kesulitan pribadi yang saya alami.
Dia pula yang duduk berjam-jam di suatu kamar di Hotel Horizon, Bandung,
awal tahun ini ketika saya kecewa dengan penutupan Pantau. Dia mendukung
upaya penerbitan Pantau lagi.

Ea juga menyediakan telinga ketika saya butuh teman bicara. Mulai dari
soal anak hingga pekerjaan. Orang yang manis sekali. Orang yang mau
mendengarkan. Saya jarang punya teman dengan kualitas keramahan dan
ketulusan sekelas Ea.

Pertengahan tahun ini ketahuan kalau kanker itu ternyata masih ada. Ea
masuk rumah sakit lagi. Dia sempat minta doa ketika akan operasi. Kanker
menjalar ke ususnya. Ternyata keadaan makin buruk. Ususnya harus
dipotong 50 centimeter.

Sempat kirim-kiriman SMS ketika saya tahu ia harus operasi lagi. Saya
bilang, "Cantik, kau harus hadir kalau saya nanti ...."

Ea menelepon balik dan gemas bilang kenapa disapa "cantik" maka kami pun
mengobrol lagi. Saya ingat saya sedang mengalami macet di Jalan Radio
Dalam. Hingga sampai Pondok Indah, kami masih mengobrol soal
macam-macam. Saya juga mendorongnya untuk menerima pencalonan dari
Institut Studi Arus Informasi agar bersedia jadi anggota Komisi
Penyiaran Indonesia.

Dia bilang mungkin waktunya tak lama. Saya sedih sekali. Tapi dia tetap
optimis.

Kamis lalu, ibunya memberitahu saya bahwa Ea dioperasi sekali lagi,
selama 7.5 jam. Dia tak pernah siuman hingga meninggal kemarin.

Di pojok LeBoYe itu saya menangis. Ada rasa kehilangan. Ada rasa
menyesal tak ada di sampingnya ketika Ea pergi.

Selamat jalan sahabat!

Hilang satu tumbuh seribu!

Kau pergi meninggalkan nama harum, kenangan manis, dan ribuan sahabat.
Beristirahatlah dengan tenang. Everything would be okay.


Andreas Harsono
Jalan Sultan Iskandar Muda 222
Jakarta 12240
Tel. +62 21 7228981 ext. 125
Fax. +62 21 7260516
Mobile +62 816 1609929
Email aharsono@cbn.net.id


0 Comments:

Post a Comment

<< Home